Saham PT Bumi Resources Minerals (BRMS) pagi ini dilanda aksi jual. Pada pukul 10.13, saham BRMS tercatat turun 3,3% menjadi Rp 580.
Disinyalir, pelepasan investor atas saham ini disebabkan oleh kondisi terakhir yang terjadi di Newmont Mining Corp. Newmont memberitakan, sekitar 400 pekerja menggelar aksi mogok kerja di tambang tembaga dan emas Batu Hijau. Meski demikian, proses produksi masih terus berlanjut.
Asal tahu saja, BRMS melalui anak usahanya memiliki 24% saham PT Newmont Nusa Tenggara, yang mengoperasikan tambang Batu Hijau.
Kontan Investasi
Thursday, November 17, 2011
Listing Perdana, GEMS Dibuka Naik 3%
Pada listing perdananya Kamis (17/11), saham PT Golden Energy Mines Tbk dibuka naik 3% ke level Rp2.575.
Kemudian 10 menit perdagangan berlangsung, harga saham naik lagi menjadi 4% ke level Rp2.600 dengan volume perdagangan sebanyak 24.924, nilai transaksi Rp32,24 miliar dan untuk 558 kali transaksi.
Harga tertinggi saham hingga pukul 09.40 WIB sebesar Rp2.625, sedang harga terendah di Rp2.500.
Emiten baru berkode bursa GEMS ini melepas sebanyak 25-30 persen sekitar 1,25 miliar lembar saham ke publik dengan harga saham perdana yang ditawarkan sebesar Rp2.500 per saham. Perseroan menargetkan dana yang dapat diperoleh dari hasil IPO mencapai Rp4 triliun lebih.
PT Golden Energy Mines merupakan perusahaan pertambang batu bara anak usaha PT Dian Swastatika Tbk (DSSA), dan menjadi bagian dalam grup Sinarmas. Perseroan telah menunjuk PT Sinamas Sekuritas menjadi koordinator penjamin emisi efek (lead-underwriter). Sedangkan underwriter asing yang dijajaki adalah PT CIMB Securities Indonesia dan PT UBS Securities.
Presiden Direktur PT Golden Energy Mines Krisnan Cahya menjelaskan tentang penggunaan dana IPO akan digunakan sekitar 65 persen untuk pengeluaran modal dan biaya pengembangan sarana dan prasarana pertambangan batu bara untuk mendukung rencana ekspansi anak perusahaan.
Sekitar 25 persen akan digunakan perseroan untuk modal kerja perseroan dan anak perusahaan yang antara lain meliputi biaya kontraktor pertambangan, biaya konsumsi bahan bakar minyak, biaya penggantian dan pemeliharaan suku cadang alat alat berat, dan biaya biaya operasi lainnya dan 10 persen digunakan dalam 2011 untuk melunasi sebagian atau seluruh utang perseroan.
Menurut Direktur Pelaksana Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto GMR Infrastructure Investments Pte Ltd sudah berkomitmen masuk ke PT Golden Energy Mines. GMR Infrastructure Investments Pte Ltd yang menjadi pihak pembeli adalah anak usaha GMN Energy Ltd yang tercatat di bursa India. Perusahaan infrastruktur ini bergerak di bidang pembangkit listrik, dengan kapasitas 808 mw serta 8.448 mw sedang dalam proses pembangunan di India. Harga saham pada IPO itu nantinya dikalikan jumlah saham yang dibeli secara Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan hukum negara Singapura sehingga menjadi nilai total transaksi ini.
Sebanyak 12% saham PT Golden Energy Mines Tbk dari 88.235.300.000 lembar saham IPO ini pun akan dibeli GMR Singapura dan sisanya publik. "GMR Infrastructure Investments Singapore Pte Ltd akan masuk melalui penawaran umum saham perdana senilai 12% dan sisanya publik sekitar 3%. Jadi jumlah saham yang ditawarkan melalui penawaran umum saham perdana tetap 15%," ujar Krisnan Cahya.
PT Golden Energy Mines akan memproduksi batu bara sebesar 5-6 juta ton pada 2011. Perseroan menargetkan produksi batu bara mencapai 10 juta ton pada 2012. Dana investasi yang dibutuhkan untuk produksi batu bara sebesar 10 juta ton dari US$150 juta hingga US$200 juta. Krisnan memperkirakan, kontribusi anak usaha PT Golden Mines Energy sebesar 60%-70%.
GMR Singapura Pte Ltd juga akan mendapatkan 18% saham PT Golden Energy Mines melalui private placement. Hal itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilakukan pada Rabu (9/11). RUPSLB telah disetujui pemegang saham dengan jumlah sebesar 94%. "RUPSLB telah menyetujui untuk menjual dan mengalihkan saham milik perseroan dalam PT Golden Energy Mines kepada GMR Singapura, harga penjualan saham Rp2.500 per saham," ujar Krisnan.
Kemudian 10 menit perdagangan berlangsung, harga saham naik lagi menjadi 4% ke level Rp2.600 dengan volume perdagangan sebanyak 24.924, nilai transaksi Rp32,24 miliar dan untuk 558 kali transaksi.
Harga tertinggi saham hingga pukul 09.40 WIB sebesar Rp2.625, sedang harga terendah di Rp2.500.
Emiten baru berkode bursa GEMS ini melepas sebanyak 25-30 persen sekitar 1,25 miliar lembar saham ke publik dengan harga saham perdana yang ditawarkan sebesar Rp2.500 per saham. Perseroan menargetkan dana yang dapat diperoleh dari hasil IPO mencapai Rp4 triliun lebih.
PT Golden Energy Mines merupakan perusahaan pertambang batu bara anak usaha PT Dian Swastatika Tbk (DSSA), dan menjadi bagian dalam grup Sinarmas. Perseroan telah menunjuk PT Sinamas Sekuritas menjadi koordinator penjamin emisi efek (lead-underwriter). Sedangkan underwriter asing yang dijajaki adalah PT CIMB Securities Indonesia dan PT UBS Securities.
Presiden Direktur PT Golden Energy Mines Krisnan Cahya menjelaskan tentang penggunaan dana IPO akan digunakan sekitar 65 persen untuk pengeluaran modal dan biaya pengembangan sarana dan prasarana pertambangan batu bara untuk mendukung rencana ekspansi anak perusahaan.
Sekitar 25 persen akan digunakan perseroan untuk modal kerja perseroan dan anak perusahaan yang antara lain meliputi biaya kontraktor pertambangan, biaya konsumsi bahan bakar minyak, biaya penggantian dan pemeliharaan suku cadang alat alat berat, dan biaya biaya operasi lainnya dan 10 persen digunakan dalam 2011 untuk melunasi sebagian atau seluruh utang perseroan.
Menurut Direktur Pelaksana Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto GMR Infrastructure Investments Pte Ltd sudah berkomitmen masuk ke PT Golden Energy Mines. GMR Infrastructure Investments Pte Ltd yang menjadi pihak pembeli adalah anak usaha GMN Energy Ltd yang tercatat di bursa India. Perusahaan infrastruktur ini bergerak di bidang pembangkit listrik, dengan kapasitas 808 mw serta 8.448 mw sedang dalam proses pembangunan di India. Harga saham pada IPO itu nantinya dikalikan jumlah saham yang dibeli secara Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan hukum negara Singapura sehingga menjadi nilai total transaksi ini.
Sebanyak 12% saham PT Golden Energy Mines Tbk dari 88.235.300.000 lembar saham IPO ini pun akan dibeli GMR Singapura dan sisanya publik. "GMR Infrastructure Investments Singapore Pte Ltd akan masuk melalui penawaran umum saham perdana senilai 12% dan sisanya publik sekitar 3%. Jadi jumlah saham yang ditawarkan melalui penawaran umum saham perdana tetap 15%," ujar Krisnan Cahya.
PT Golden Energy Mines akan memproduksi batu bara sebesar 5-6 juta ton pada 2011. Perseroan menargetkan produksi batu bara mencapai 10 juta ton pada 2012. Dana investasi yang dibutuhkan untuk produksi batu bara sebesar 10 juta ton dari US$150 juta hingga US$200 juta. Krisnan memperkirakan, kontribusi anak usaha PT Golden Mines Energy sebesar 60%-70%.
GMR Singapura Pte Ltd juga akan mendapatkan 18% saham PT Golden Energy Mines melalui private placement. Hal itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilakukan pada Rabu (9/11). RUPSLB telah disetujui pemegang saham dengan jumlah sebesar 94%. "RUPSLB telah menyetujui untuk menjual dan mengalihkan saham milik perseroan dalam PT Golden Energy Mines kepada GMR Singapura, harga penjualan saham Rp2.500 per saham," ujar Krisnan.
Jual PTRO, Investor Buru INDY
Kabar mengenai rencana Indika Energy (INDY) melepas 20% saham Petrosea (PTRO) pada awal bulan depan, membuat para investor melakukan aksi akumulasi beli. Pihak korporasi INDY pada saat ini sedang mempersiapkan merealisasikan rencana tersebut. Sebelumnya INDY memiliki 98% saham PTRO yang seharusnya dijual kembali ke pasar pada akhir Agustus lalu. Namun hasil negosiasi pihak INDY dengan Bapepam berhasil menunda aksi refloating ini. Dengan penjualan kembali sebagian saham PTRO, maka diperkirakan INDY akan mendapat dana segar dengan nilai mencapai lebih dari Rp 200 miliar. Selain itu, perdagangan INDY yang marak juga berdasarkan analisa teknikal dari beberapa broker asing, bahwa INDY berada dalam area support sepenuhnya, dengan titik bottom reversal di angka Rp 2250-2275 per lembar dan telah tersentuh sebelumnya. Sehingga potensi berbalik arah akan semakin terbuka dengan level resistance terdekat di angka Rp 2575, jika angka ini tersentuh maka akan terbuka peluang INDY mencapai target berikutnya di angka Rp 3000 per lembar. Pada perdagangan kemarin INDY ditutup pada harga Rp 2325 atau naik 25 poin (+1.09%). Volume transaksi tercatat sebesar 21.56 juta lembar dengan nilai lebih dari Rp 48.7 miliar.[Ast]
Akumulasi! Broker Asing Bidik MITI
Saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) dikabarkan telah masuk radar konsorsium broker asing.
Hal ini seiring mencuatnya kabar perusahaan batubara asal India bakal mendukung Perseroan mengakuisisi tambang batubara.
Berdasarkan kabar di pasar, mitra strategis itu juga bakal membeli saham MITI. Sentimen itu diprediksi bisa mendongkrak harga MITI menembus Rp100 dalam jangka pendek.
Pada perdagangan ekmarin saham MITI ditutup naik Rp1 ke level Rp52.
Hal ini seiring mencuatnya kabar perusahaan batubara asal India bakal mendukung Perseroan mengakuisisi tambang batubara.
Berdasarkan kabar di pasar, mitra strategis itu juga bakal membeli saham MITI. Sentimen itu diprediksi bisa mendongkrak harga MITI menembus Rp100 dalam jangka pendek.
Pada perdagangan ekmarin saham MITI ditutup naik Rp1 ke level Rp52.
Golden Energy Mines Listing Hari Ini
PT Golden Energy Mines Tbk akan melakukan listing perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (17/11) pagi ini.
Emiten baru berkode bursa GEMS ini siap melepas sebanyak 25-30 persen sekitar 1,25 miliar lembar saham ke publik dengan harga saham perdana yang ditawarkan sebesar Rp2.500 per saham. Perseroan menargetkan dana yang dapat diperoleh dari hasil IPO mencapai Rp4 triliun lebih.
PT Golden Energy Mines merupakan perusahaan pertambang batu bara anak usaha PT Dian Swastatika Tbk (DSSA), dan menjadi bagian dalam grup Sinarmas. Perseroan telah menunjuk PT Sinamas Sekuritas menjadi koordinator penjamin emisi efek (lead-underwriter). Sedangkan underwriter asing yang dijajaki adalah PT CIMB Securities Indonesia dan PT UBS Securities.
Presiden Direktur PT Golden Energy Mines Krisnan Cahya menjelaskan tentang penggunaan dana IPO akan digunakan sekitar 65 persen untuk pengeluaran modal dan biaya pengembangan sarana dan prasarana pertambangan batu bara untuk mendukung rencana ekspansi anak perusahaan.
Sekitar 25 persen akan digunakan perseroan untuk modal kerja perseroan dan anak perusahaan yang antara lain meliputi biaya kontraktor pertambangan, biaya konsumsi bahan bakar minyak, biaya penggantian dan pemeliharaan suku cadang alat alat berat, dan biaya biaya operasi lainnya dan 10 persen digunakan dalam 2011 untuk melunasi sebagian atau seluruh utang perseroan.
Menurut Direktur Pelaksana Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto GMR Infrastructure Investments Pte Ltd sudah berkomitmen masuk ke PT Golden Energy Mines. GMR Infrastructure Investments Pte Ltd yang menjadi pihak pembeli adalah anak usaha GMN Energy Ltd yang tercatat di bursa India. Perusahaan infrastruktur ini bergerak di bidang pembangkit listrik, dengan kapasitas 808 mw serta 8.448 mw sedang dalam proses pembangunan di India. Harga saham pada IPO itu nantinya dikalikan jumlah saham yang dibeli secara Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan hukum negara Singapura sehingga menjadi nilai total transaksi ini.
Sebanyak 12% saham PT Golden Energy Mines Tbk dari 88.235.300.000 lembar saham IPO ini pun akan dibeli GMR Singapura dan sisanya publik. "GMR Infrastructure Investments Singapore Pte Ltd akan masuk melalui penawaran umum saham perdana senilai 12% dan sisanya publik sekitar 3%. Jadi jumlah saham yang ditawarkan melalui penawaran umum saham perdana tetap 15%," ujar Krisnan Cahya.
PT Golden Energy Mines akan memproduksi batu bara sebesar 5-6 juta ton pada 2011. Perseroan menargetkan produksi batu bara mencapai 10 juta ton pada 2012. Dana investasi yang dibutuhkan untuk produksi batu bara sebesar 10 juta ton dari US$150 juta hingga US$200 juta. Krisnan memperkirakan, kontribusi anak usaha PT Golden Mines Energy sebesar 60%-70%.
GMR Singapura Pte Ltd juga akan mendapatkan 18% saham PT Golden Energy Mines melalui private placement. Hal itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilakukan pada Rabu (9/11). RUPSLB telah disetujui pemegang saham dengan jumlah sebesar 94%. "RUPSLB telah menyetujui untuk menjual dan mengalihkan saham milik perseroan dalam PT Golden Energy Mines kepada GMR Singapura, harga penjualan saham Rp2.500 per saham," ujar Krisnan.
Emiten baru berkode bursa GEMS ini siap melepas sebanyak 25-30 persen sekitar 1,25 miliar lembar saham ke publik dengan harga saham perdana yang ditawarkan sebesar Rp2.500 per saham. Perseroan menargetkan dana yang dapat diperoleh dari hasil IPO mencapai Rp4 triliun lebih.
PT Golden Energy Mines merupakan perusahaan pertambang batu bara anak usaha PT Dian Swastatika Tbk (DSSA), dan menjadi bagian dalam grup Sinarmas. Perseroan telah menunjuk PT Sinamas Sekuritas menjadi koordinator penjamin emisi efek (lead-underwriter). Sedangkan underwriter asing yang dijajaki adalah PT CIMB Securities Indonesia dan PT UBS Securities.
Presiden Direktur PT Golden Energy Mines Krisnan Cahya menjelaskan tentang penggunaan dana IPO akan digunakan sekitar 65 persen untuk pengeluaran modal dan biaya pengembangan sarana dan prasarana pertambangan batu bara untuk mendukung rencana ekspansi anak perusahaan.
Sekitar 25 persen akan digunakan perseroan untuk modal kerja perseroan dan anak perusahaan yang antara lain meliputi biaya kontraktor pertambangan, biaya konsumsi bahan bakar minyak, biaya penggantian dan pemeliharaan suku cadang alat alat berat, dan biaya biaya operasi lainnya dan 10 persen digunakan dalam 2011 untuk melunasi sebagian atau seluruh utang perseroan.
Menurut Direktur Pelaksana Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto GMR Infrastructure Investments Pte Ltd sudah berkomitmen masuk ke PT Golden Energy Mines. GMR Infrastructure Investments Pte Ltd yang menjadi pihak pembeli adalah anak usaha GMN Energy Ltd yang tercatat di bursa India. Perusahaan infrastruktur ini bergerak di bidang pembangkit listrik, dengan kapasitas 808 mw serta 8.448 mw sedang dalam proses pembangunan di India. Harga saham pada IPO itu nantinya dikalikan jumlah saham yang dibeli secara Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan hukum negara Singapura sehingga menjadi nilai total transaksi ini.
Sebanyak 12% saham PT Golden Energy Mines Tbk dari 88.235.300.000 lembar saham IPO ini pun akan dibeli GMR Singapura dan sisanya publik. "GMR Infrastructure Investments Singapore Pte Ltd akan masuk melalui penawaran umum saham perdana senilai 12% dan sisanya publik sekitar 3%. Jadi jumlah saham yang ditawarkan melalui penawaran umum saham perdana tetap 15%," ujar Krisnan Cahya.
PT Golden Energy Mines akan memproduksi batu bara sebesar 5-6 juta ton pada 2011. Perseroan menargetkan produksi batu bara mencapai 10 juta ton pada 2012. Dana investasi yang dibutuhkan untuk produksi batu bara sebesar 10 juta ton dari US$150 juta hingga US$200 juta. Krisnan memperkirakan, kontribusi anak usaha PT Golden Mines Energy sebesar 60%-70%.
GMR Singapura Pte Ltd juga akan mendapatkan 18% saham PT Golden Energy Mines melalui private placement. Hal itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilakukan pada Rabu (9/11). RUPSLB telah disetujui pemegang saham dengan jumlah sebesar 94%. "RUPSLB telah menyetujui untuk menjual dan mengalihkan saham milik perseroan dalam PT Golden Energy Mines kepada GMR Singapura, harga penjualan saham Rp2.500 per saham," ujar Krisnan.
WINS Raih Proyek dari CNOOC SES
PT Wintermar Tbk (WINS) melalui anak perusahaannya, PT Wintermar, telah ditunjuk CNOOC (China National Offshore Oil Corporation) SES Ltd untuk menyediakan 3 unit kapal jenis Fast Utility pax untuk 5 tahun kontrak, yang digunakan pada tahun 2013.
Dalam keterbukaannya ke BEI Perseroan menyebutkan 3 kapal jenis FUV bangunan baru ini akan mendukung operasi CNOOC di lokasi Pabelokan, Laut Utara Pulau Jawa dengan lingkup pekerjaan terdiri dari pengangkutan personil dan angkutan peralatan/barang.
Kapal berspesifikasi dan berkecepatan tinggi ini terbuat dari aluminium dan dapat mencapai kecepatan lebih dari 25 knot. Estimasi nilai kontrak adalah sebesar US$19.183.500 berlaku selama 5 tahun.
CNOOC Ltd Group merupakan produsen minyak dan gas kilang lepas pantai terbesar di China. Di Indonesia, anak usahanya CNOOC SES Ltd memberikan kontribusi signifikan dalam penyediaan minyak dan gas, saat ini memproduksi minyak sejumlah lebih kurang 43.000 barel per hari dan 80 BBTU gas yang dipasok kepada PT PLN (Persero) untuk penggerak turbin milik PLN di Cilegon, Banten.
Dalam keterbukaannya ke BEI Perseroan menyebutkan 3 kapal jenis FUV bangunan baru ini akan mendukung operasi CNOOC di lokasi Pabelokan, Laut Utara Pulau Jawa dengan lingkup pekerjaan terdiri dari pengangkutan personil dan angkutan peralatan/barang.
Kapal berspesifikasi dan berkecepatan tinggi ini terbuat dari aluminium dan dapat mencapai kecepatan lebih dari 25 knot. Estimasi nilai kontrak adalah sebesar US$19.183.500 berlaku selama 5 tahun.
CNOOC Ltd Group merupakan produsen minyak dan gas kilang lepas pantai terbesar di China. Di Indonesia, anak usahanya CNOOC SES Ltd memberikan kontribusi signifikan dalam penyediaan minyak dan gas, saat ini memproduksi minyak sejumlah lebih kurang 43.000 barel per hari dan 80 BBTU gas yang dipasok kepada PT PLN (Persero) untuk penggerak turbin milik PLN di Cilegon, Banten.
Garuda Tingkatkan Pangsa Pasar Global
PT Garuda International (GIAA) mengakui Market Share International turun hingga 1% pada kuartal ketiga.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT.GI Emirsyah Satar pada acara paparan kerja di Kuartal ke III di kantor Garuda Indonesia, Jakarta (28/10). "Market share International kita turun sampai 1%, karena kita tidak menambahkan frekuensi penerbangan international," ujarnya
Dengan turun market share International masih perseroan tetap mengupayakan menjaga kualitas pelayanan. Untuk tingkat masket share di pasar domestik naik menjadi 31% dari sebelumnya 26%.
"Karena hal itu kita yakin bisa menaikkan market share international di kuartal keempat nanti," katanya.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT.GI Emirsyah Satar pada acara paparan kerja di Kuartal ke III di kantor Garuda Indonesia, Jakarta (28/10). "Market share International kita turun sampai 1%, karena kita tidak menambahkan frekuensi penerbangan international," ujarnya
Dengan turun market share International masih perseroan tetap mengupayakan menjaga kualitas pelayanan. Untuk tingkat masket share di pasar domestik naik menjadi 31% dari sebelumnya 26%.
"Karena hal itu kita yakin bisa menaikkan market share international di kuartal keempat nanti," katanya.
Fund AS dan Asia Bakal Borong GIAA
Sejumlah fund asal AS dan Asia dikabarkan akan memborong saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
Bahkan berdasarkan informasi di pasar, beberapa fund mulai membeli saham GIAA di pasar menyusul laba bersih Perseroan per Oktober 2011 sudah mendekati Rp600 miliar dibandingkan tahun lalu sebesar Rp515 miliar. Harga GIAA pun dihembuskan bakal terkerek menuju Rp560.
Pada perdagangan kemarin saham GIAA ditutup stagnan di level Rp420
Bahkan berdasarkan informasi di pasar, beberapa fund mulai membeli saham GIAA di pasar menyusul laba bersih Perseroan per Oktober 2011 sudah mendekati Rp600 miliar dibandingkan tahun lalu sebesar Rp515 miliar. Harga GIAA pun dihembuskan bakal terkerek menuju Rp560.
Pada perdagangan kemarin saham GIAA ditutup stagnan di level Rp420
Subscribe to:
Comments (Atom)